Kegiatan Suster / OUTING
28 Februari 2017

Sebuah sharing pengalaman dari seorang suster berkaul sementara (suster Yunior) dalam proses pembinaan rohani. 

Triduum pada hari ke 2 Pada tahun 2016 ini kami diberi kesempatan merenungkan tentang makna dan penghayatan kaul kemiskinan melalui dasar konstitusi artikel 19-31. Dalam meditasi terpimpin, Sr. Maria Marsela, SND memberi gambaran tentang botol kosong yang akan kami bawa dan botol tersebut tentu saja akan kami isi dengan cinta dan rahmatNya yang luar biasa dari masing-masing pribadi, peristiwa dan kejadadian-kejadian yang akan kami alami selama sehari itu, entah dengan dan kepada siapa yang akan kami jumpai.

Merenungkan makna kemiskinan  dalam  perjalanan kali ini benar-benar membawa saya pada sikap kekosongan, kepasrahan dan ketergantungan. Saya mengalami belas kasih kecukupan dan rahmat dari Allah, dimana makna miskin tersebut tidak didasarkan melulu pada miskin secara ekonomi, bisa jadi miskin secara rohani, miskin cinta, miskin pengendalian diri atau segala keterbatasan lainnya,  tentu saja masing-masing pribadi yang lebih mengetahuinya.

Laksana seorang musafir yang membawa botol kosong dan haus tergantung akan kebaikan dan rahmat Allah, itulah yang saya alami dengan semangat kekosongan diri, dimana kali ini saya hanya berjalan seturut suara hati kemana kaki ini akan membawa saya dengan sepeda ontel hitam, botol  minum, alat tulis, kutipan surat santa Yulia dan tak ketinggalan  jam tangan hitam saya sebagai pengingat waktu.

Oase dan keseharian kini nampak di tikungan jalan pertamaku, tepatnya di jalan Kusuma bangsa atau lebih kerennya di depan kantor pos. Kali ini saya melihat sekarung sampah yang terdiri dari bermacam-macam sampah dengan warna-warni yang mampu menembus pandangan, dan disampingnya ada seorang wanita yang sudah tua, sayapun menghampirinya dengan obrolan sekedar bosa-basi…(begilah oboranku akan tetapi memakai bahasa jawa khas Pekalongan).

Saya:  Maaf bu mau Tanya kalau ke panjang wetan itu lewat arah jalan mana ya??

Ibu  : Lha ibue arep ngendi?

Saya: Badhe teng rencang?

Ibu  : Yo lewat kene sing cedhak mengko tembus indomaret lha terus wae

Saya: suwun nggih bu….tapi kula angsal cerita kok ibu mbeto rongsokan kathah isinipun menepa badhe betha wonten pundi (sambil memegang)

Ibu : he..he..(ketawa sambil senyum) yo badhe Tumbas sekol megono bu….menika tiyang mboten gadah

Mulailah dengan cerita…

Ibu tersebut bernama ibu Atun ia berusia 73 Tahun, mempunyai 6 orang anak dan suaminya sudah meninggal 8 bulan yang lalu karena sakit Typus. Sebelum meninggal suaminya bekerja sebagai tukang becak tetapi bukan becak miliknya sendiri tetapi menyewa pada orang lain yang setiap harinya membayar 30 persen dari penghasilannya sekaligus perawatannya sedangkan profresi sebagai pemulung sudah ia tekuni selama 25 tahun. Hal ini ia lakukan untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga karena tidak mempunyai penghasilan yang tetap dan melihat kondisi ekonomi yang tentu saja di bawah standar untuk mencukupi kebutuhan 6 anaknya yang kini telah mandiri dan sudah bisa mencari uang sendiri meskipun hanya berbekal pendidikan tamat SD dan tamat SMP.

Rute perjalanan untuk memunggut benda-benda bekas tersebut dimulai sehabis sholat subuh menuju tempat-tempat pembuangan akhir (sampah) disekitar BANK BRI, SMP N 1 pekalongan dan SD Panjang setelah itu kembali ke rumahnya untuk bekerja Rumah tangga dan lanjut lagi siang hari dan sore hari.

Hasil dari punggutanpun bermacam-macam mulai dari plastic kertas dan aqua dengan harga yang bervariasi. Misalnya botol plastik seharga 2.000 perkilo, kertas dan plastic  200 rupiah, Perhari kurang lebih mendapat 12.000 kalau ada acara dan anak sekolah bisa mencapai 25.000. Semuanya itu dijalaninya dengan penuh syukur dan tanpa ada keluhan. Prinsip dari bu Atun yaitu: Tidak apa-apa mengalami kesusahan di Dunia asal jangan masuk Neraka.  Hambatan yang ia alami adalah ketika musim Hujan dan pengahasilan meningkat ketika ada acara di Museum, di Lapangan serta acara-acara lainnya.

     Perjalanan berikutnya membawaku pada tikungan yang kedua tepatnya di pasar. Pasar merupakan tempat terjadinya transaksi jual beli antara pedagang dan pembeli yang tidak lain karena adanya factor kebutuhan.  Keuntungan pembeli adalah membeli barang kebutuhan dan penjual adalah menjual barang untuk mendapatkan keuntungan dan keuntungan tersebut menjadi mata pencaharian mereka. Seperti bentuk piramida pasar juga tentu ada kelas-kelasnya baik kelas klasifikasi penjualannya maupun tingkat harganya. Kali ini pemandangan dan suasana pasarpun sangat ramai ada tukang parkir, jasa gendong penjual sayur, pakaian buah dll.

Perjalananku kali ini pada Lantai 3 Pasar Banjarsari Pekalongan pada saat saya memperhatikan kesibukan seorang bapak paruh baya yang menawarkan pakaian bekasnya spontan saya memegang pakaian tersebut seperti seorang yang hendak membeli.

Bapak: Melihatku memegang kaos  ( Niku regane 2.000 bu….wonten jenis lain ugi, celana, hem, baju koko nggih wonten) Sambil melipat-lipat

Saya: Badhe Ninggali mawon pak kalian nunggu rencang ingkang pados krambil wonten kidul.

Bapak: Tak kira badhe Tumbas Bu….

Saya: Kapan-kapan pak wonten Griya tasih sae kaos menika…

Bapak: Niki mumpung anyar bu ugi sae nginjing sampun telas….

Mulailah percakapan dengan bapak Tesebut            

              Bapak tersebut bernama pak Husnain  berusia 79 tahun beralamatkan di Tirto. Ia menjual pakaian bekas sudah 35 Tahun yang Ia sebut sebagai Bangkel (Penjual pakaian bekas). Sebelumnya ia bekerja sebagai penarik becak dan kerja serabutan, bapak Husnain ini mempunyai anak 13 dan yang sudah di panggil Tuhan 2 karena sakit sedangkan istrinya bekerja sebagai buruh cuci baju di perumahan Tirto…Alasan menjual pakaian bekas tersebut juga karena factor ekonomi untuk membiaya kebutuhan keluarga dan pendidikan anak-anaknya meski pada waktu itu hanya mampu menyekolahkan sampai SD dan SMP saja.

Kesebelas anaknya kini sudah mandiri bahkan 6 diantaranya sudah hidup berkeluarga dan lainnya sudah bekerja, ada yang bekerja sebagai tukang listrik di Jakarta, Sebagai penjual pakaian di pasar Tiban (Pasar dadakan) Pegawai di Pabrik teh dan lainnya. Sehingga kesibukan sekarang dalam berjualan hanya untuk mengisi waktu kosong saja, tidak seperti puluhan tahun yang silam ungkapnya. Yang Ia jual berupa kaos seharga 2000,- Hem 5.000 sedangkan celana panjang seharga 7.000,- Ia mendapat pakaian bekas tersebut dari bangkel besar ungkapnya atau dari beberapa orang yang menjualnya kepadanyanya sepotong kaos Ia beli dengan harga 500 hem dan celana seharga 1.500 kemudian ia cuci dan setrika kemudian baru dijualnnya dipasar.

Secara umum beliau tidak merasa sedih dalam melakukan pekerjaan tersebut, karena seperti halnya Bu Atun itu sudah menjadi  harta milik mereka sehingga kesulitan, tidak laku atau laiinya sudah menjadi kebiasaan.    

              Perjalanan berikutnya saya berhenti pada Ruang intropeksi, isolasi dan pembaharuan diri yang bisa disebut dengan ruang penjara. Meski saya sendiri ragu untuk memasuki gedung tersebut salah satunya belum pernah dan tidak ada yang saya kenal.

Melihat orang yang di depan penjara banyak, akhirnya sayapun memberanikan diri untuk masuk dan melihat seperti apa penjara itu dan siapa yang ada di sana. Akhinya saya berani menuju ruang Informasi.

Saya: Selamat siang pak….maaf  pak, saya memang tidak mengenal siapa-siapa di penjara ini, apakah boleh saya melihat jumlah dan klasifikasi narapidana yang ada di lapas ini, sebagai tugas saya.

Bapak: Sebentar bu saya tanyakan

Bapak lainpun datang dengan ekspresi wajah yang lumayan membuat saya agak takut

Bapak 1: Ada perlu apa bu dari gereja mana?

Saya: Untuk mengisi Data Pak karena ada Tugas sosial. Saya dari gereja katolik Santo Petrus Pekalongan yang didepan situ.

Bapak lainpun datang wah….tambah membuat saya tambah takut

Bapak 2: Silahkan bu masuk saya kepala lapas ini…dan ini silahkan isi buku pengunjung.

Saya: Terima kasih pak….dan Maaf apakah ada narapidana yang beragama Katolik atau Kristen?

Bapak 2: Mau yang laki-laki atau perempuan yang muda atau yang tua?

Saya: Kalau ada semuanya ndak apa-apa….pak (langsung saya diajak di ruang Tunggu)

              Lalu saya duduk di kursi kayu di ruangan tersebut,  luasnya kurang lebih 4x3 Meter. Lalu saya amat-amati yang disekitar sana.  Ada seorang Bapak paruh baya  namanya bertuliskan Nama Tayib yang masih mengetik serta ada papan tulis yang lebar bertuliskan jumlah narapidana yang ada di lapas tersebut ada 145 orang mulai dari anak-anak hingga orang dewasa dengan jumlah 13 orang wanita dan 132 laki-laki. Setelah menunggu kurang lebih 7 menit satu-persatu penghuni lapas tersebut mulai berdatangan yang beragama katolik dan Kristen. Pertama kali datang seorang anak laki-laki yang memperkenalkan namanya Budi langsung menyusul wanita paruh baya dan remaja yang membawa alkitab dan buku Renungan dengan memperkenalkan namanya Bu Tati dan Mbak Manggi.

              Setalah kumpul Pak Tayib mengenalkan lagi dan memberi kesempatan kepada kami untuk bercerita karena masih waktu kunjungan, perjumpaan dengan saudara-saudara di lapas kali ini diawali dengan doa pembuka dan saya spontan memilih bacaan tentang Hal Kekawatiran lalu mulai ajak mereka bercerita tentang kota asal,  keluarga dan juga tentang kegiatan mereka di penjara serta berapa lama mereka di Vonis. Yang pertama bercerita bernama Budi ia asal pekalongan dan berusia 24 Tahun Mendapat Vonis dalam penjara 1 tahun 2 Bulan dan kini sudah menjalani masa tahanan selama 10 Bulan sedangkan Bu Tati juga berasal dari pekalongan Ia menerima vonis selama 2 tahun 4 Bulan dan baru menjalaninya 5 bulan sedangkan mbak Manggi menerima vonis selama 10 bulan dan dalam penjara baru 2 Minggu untuk kasus dari 3 Narapidana tersebut kurang lebih sama yaitu pengelapan jabatan.

Namun dalam obrolan, saya menghindari hal yang bersifat Privasi,  saya hanya memberi semangat, motivasi serta kepercayaan bahwa segala kesalahan telah diampuni Tuhan Yesus dan bisa  kembali membaharui kehidupan yang lebih baik lagi setelah keluar dari Penjara. Sedangkan untuk kegiatan di penjara juga beraneka ragam mulai dari kegiatan keagamaan, menjahit dan kerajinan tangan.

Setelah selesai berbincang-bincang saya minta ijin dengan pak Tayib untuk melihat kondisi disekitar penjara terlebih saya penasaran dengan kondisi tempat tidurnya apakah benar seperti di televisi yang bersel  besi dan beralasakan Triplex ternyata setelah saya lihat terutama di ruangan perempuan tidak seperti yang saya bayangkan tempat tidurnya ada kasur Busa yang disusun berdampingan, ada tempat untuk mencuci baju serta kamar mandi meski sangat sederhana. Sayapun berbincang-bincang dengan narapidana perempuan yang kebanyakan usianya 53-55 Tahun.  Suasana lapas pada siang ini begitu ramai kurang lebih ada 20 narapidana yang berkemeja Putih untuk mendapatkan Remisi.

Setelah itu baru saya berpamitan untuk kembali ke Biara.

Sr. Maria Herlina, SND

SHARE THIS ON:
COMMENT