News / Kegiatan Komunitas
29 Juni 2020

JIWAKU MEMULIAKAN TUHAN

HATIKU BERSUAKARIA KARENANYA

Dalam bidang pendidikan orang katakan : “barangsiapa menabur kemalasan akan menuai kegagalan dengan tangis dan air mata. Barangisapa menabur disiplin akan menuai sukses dengan tawa dan bangga. Dalam bidang Ekonomi orang katakan : “Barangsiapa  hidup boros  dan berfoyah-foyah, akan menuai sengsara di masa depan sebaliknya barangsiapa suka manabung dan hidup hemat akan bersenang-senang dimasa tua. Dalam kehidupan rohani, barangisapa menabur kasih, akan menuai hidup damai, barangsiapa menabur kabaikan akan menikmati rasa bahagia. Kalimat terakhir inilah yang menjadi motto perjalanan hidup membiaraku  selama 25 tahun. Menabur kabaikan, menuai kehidupan!

1. Hari ini, sebenarnya kami ber-7 yang merayakan perak hidup membiara ini namun teman kami satu tidak melanjutkan dan tinggal ber-6 dan semuanya dari Flores. Ada yang bertugas di Purbalingga, Pekalongan, Tawangmanu,  Kefamananu dan saya sendiri. Masing masing kami merayakan di komunitas masing masing berhubung dengan kondisi saat ini dengan adanya wabah covid-19  yang melanda muka bumi ini. Tapi Puji Tuhan hari ini diberi rahmat berlimpah diberi Tuhan kesempatan untuk bersyukur kepadaNya dalam perjalanan panggilan selama 25 tahun ini.

2.         Pertanyaan mengapa mau masuk Suster? Sangat sederhana alasannya di SD waktu itu….melihat seorang Suster yang berjalan di jalan kok memiliki kakinya bersih hehehe….maklum waktu itu anak kampong sukanya main pasir jadi melihat ada yang bersih kakinya jadi tertarik. Dari pengalaman ini ternyata memiliki makna yang sangat kaya mengenang “ Yesus mencuci kaki para rasul” Artinya dipanggil untuk saling melayani satu dengan yang lain.

3.         Mengapa kok memilih SND? Pengalaman masa kecil baik dalam keluarga maupun di sekolah yang selalu berdoa dan berziarah kepada Bunda Maria  membuatku dekat dengan Bunda Maria. Maka dari itu saya memilih menjadi Suster yang berlindung dibawah naungan Bunda Maria “Suster Santa Bunda Maria atau Suster Notre Dame”

4. Hidup kita adalah sebuah perjalanan  yang menuju kepada suatu tujuan. Yang  tentunya harus diisi  dengan perbuatan perbuatan baik kita.

Memang perjalanan 25 tahun hidup membiara tidak semudah membalikan telapak tangan, juga tidak semudah kata yang keluar dari mulut. Begitu banyak tantangan yang terkadang membuat saya rapuh dan hampir jatuh. Ada putus ada dan rasa tak berdaya. Ada rasa  tak sanggup dan  kalah akan panggilan yang maha berat. Namun  dalam situasi yang demikian masih ada ruang dalam hati dimana Tuhan sungguh menunjukan kasihNya kepada saya.

Bunda Maria sungguh menuntun sebagai kasih seorang ibu.  Dalam perjalanan  panggilan ini saya sungguh merasa, Tuhan sungguh menjadi Emanuel dan Maria sungguh sebagai seorang Ibu yang  penuh kasih.

Yah, Maria sungguh sebagai ibu saya, ibu gereja, ibu kita semua dalam sejarah keselamatan umat manusia.

Sebagaimana telah dilakukan Bunda  Maria bergegas menemui saudaranya Elisabeth yang sedang mengandung Yohanes untuk berbagi kegembiraan. Yohanes melonjak kegirangan dalam rahim Elisabeth. Maria selalu membawa Yesus kemanapun. Maria mensyukuri anugerah panggilan Tuhan dengan  “Nyanyian Pujian Maria – Magnificat” atau viat Maria

Menjawab panggilan Tuhan berarti membawa kabar sukacita kepada semua orang agar semuanya mengalami keselamatan dalam Yesus

 

25 Tahun Hidup Membiara

27 Juni 1995 -27 Juni 2020

Sr. M. Bertin, SND

 

SHARE THIS ON: