News / Lain-lain
25 Februari 2017

Kegiatan dan Pendampingan Bawah Jembatan

            Kebahagian dapat dirasakan jika didasari oleh semangat yang tulus bebas dan kesediaan diri untuk berbagi, mau menerima sesama sebagai saudara dengan latar belakang yang berbeda, terlebih bagi mereka yang lemah, miskin, tersingkir dan di fabel, hal ini karena cinta Tuhan dan rahmat yang Ia berikan sangat besar. "BETAPA BAIKNYA TUHAN YANG MAHA BAIK" karena IA ada dalam diri sesama .

LATAR BELAKANG

            Dalam rangka perayaan pesta 150 tahun  berdirinya SND tepatnya 1 oktober yang bertepatan juga pada tahun Yubelium, komunitas postulan diajak menemukan makna dari tahun syukur ini Melalui studi dan refleksi dengan lebih mengatualisasikam semangat Kongregasi yaitu semangat Sr Maria Aloysia dan Sr Maria Ignasia yang memperhatikan kaum lemah miskin dan tersingkir.

Maka untuk mendukung kegiatan ini  tanggal 27 september 2000 para Postulan diberi kesempatan keluar dari Komunitas dengan tugas, maka pergilah mereka  berdua-dua untuk menemui sesama yang dianggap berkekurangan. Ternyata kedua Postulan yaitu Katarina dan Evelia bersepakat memilih untuk menemui para penghuni bawah jembatan sungai loji. Hal ini karena hati mereka tersentuh dan iba untuk membentu sesama, terlebih karena saat mereka pergi ke gereja paroki sering melihat kondisi mereka. Meskipun dengan perasaan sedikit ragu-ragu dan belum jelas, mereka berdua memberanikan diri untuk pergi ke tempat tersebut.

Dengan strategi pura-pura mengamati air sungai loji yang tampak begitu hitam dan berbau tak sedap, mereka mengawali komunikasi dengan penghuni bawah jembatan. Ternyata kedua Postulan tersebut diterima dengan sangat baik dan senang, sampai mereka dapat mengerti situasi dan kondisi tempat itu maka mulailah mereka melakukan kegiatan tersebut secara nyata, dan itu menjadi kegiatan Sosial kongregasi SND yang masih berlanjut sampai sekarang, dan mendapat banyak dukungan dari Gereja paroki dan masyarakat secara luas.

VISI DAN MISI

VISI :

Menghadirkan Belas Kasih Allah yang memberdayakan dan meningkatkan hidup yang lebih layak bagi penghuni bawah jembatan.

MISI :

  1. Mau hadir di masyarakat bersama penghuni bawah jembatan dengan keterbukaan, perhatian dan kasih
  2. Memberi pengarahan/pendidikan untuk perubahan metalitas dan gaya hidup mereka.
  3. Memberikan pendidikan bagi anak-anak dan mempersiapkan anak yang sudah usia sekolah untuk dapat memperoleh pendidikan formal di sekolah. 
  4. Memberika pertolongan dan usaha pemberdayaan untuk hidup sosial ekonomi sesuai kebutuhan dan kemampuan (usaha ekonomi produktif) agar penghuni mempunyai  penghidupan yang lebih baik

SITUASI DAN TEMPAT PADA TAHUN 2000

Tempat tinggal dan lingkungan bawah jembatan sungguh tidak sehat baik secara fisik, sosial maupun moral yang memang tidak layak untuk menjadi tempat tingal karena :

  • Tempat ini ditepi sungai besar yang tidak luput dari banjir dan airnya berwarna hitam, bau akibat limbah pabrik batik, di lokasi demikianlah yang menjadi tempat tinggal mereka.
  • Tempat ini juga dihuni oleh orang-orang yang mempunyai kebiasaan hidup yang tidak terpuji bahkan tersingkir dari masyarkat seperti berjudi, minum-minum dan sesekali menjadi tempat pelacuran, sehingga lokasi ini tidak hanya menjadi tempat tinggal mereka tetapi juga orang-orang luar yang memang ingin berjudi, mabuk dll.
  • Ada sedikit tanah lapang yang bisa menjadi tempat ibu-ibu bersama memasak, makan dan bermain, juga untuk tidur dan menyimpan barang-barang. Mereka membuat skat-skat seperti kamar, dengan papan dan kardus diatas besi kerangka jembatan sungai loji ini tetapi pada malam hari dan kalau banjir banyak diantara mereka yang tidur dipasar atau emperan toko.

SITUASI DAN TEMPAT PADA TAHUN 2016

Tempat tinggal dan lingkungan sekarang sudah mulai tertata begitu pula kondisi sosial sudah mulai tertata dan lebih bermoral dengan beberapa langkah yang kami dampingi diantaranya adalah dengan;

  • Memberi pendampingan akan pentingnya kesehatan
  • Memberi bantuan tempat sampah di pinngir-pinggir jalan.
  • Memberi pendampingan tentang budi pekerti dan sosial.

KARAKTERISTIK PADA TAHUN 2000

  • Penghuni tetap bawah jembatan ini terdiri dari 2 lansia, 2 orang janda dan 3 pasang suami istri denan 11 anak dan 2 orang muda per tahun 2000.
  • Pekerjaan mereka menjadi pengemis di sekitar Pom bensin, mal-mal, pasar, pemulung, preman pasar tapi ada juga yang berjudi, dorong becak untuk mempertahankan hidup.
  • Mereka tidak ada yang mengikuti pendidikan formal selain seorang bapak yang pernah mengkuti kegiatan belajar di pondok pesantren, sehingga anak-anak pun banyak yang tidak bisa membaca dan menulis.

Dari segi kesehatan mereka juga tidak pernah memperhatikannya. Penyakit yang sering muncul diare, gatal-gatal, batuk, telinga keluar cairan terus, cacingan (terutama bagi anak-anak)

KARAKTERISTIK PENGHUNI TAHUN 2016

  • Penghuni tetap bawah jembatan terdiri dari 20 kepala keluarga. Dengan jumlah Lansia 5, 3 janda, 16 Pasangan keluarga 18 Anak-anak usia sekolah TK, SD, SMP dan 6 Anak muda per 2016.
  • Pekerjaan mereka sudah mulai tertata, ada yang bekerja sebagai buruh di toko, Pabrik rambut, Jasa pelayanan di warung makan, Buruh nelayan kapal, Pemulung, Jualan kecil-kecilan (hasil pendampingan ekonomi produktif) pabrik gas dan jasa dorong becak.
  • Setalah pendampingan anak-anak dari mereka sudah menempuh pendidikan formal sampai SMP dan sudah bisa membaca dan menulis.

Sedangkan dari segi kesehatan sekarang mereka sudah mengenal kebersiahan dan mengerti akan bahayanya air yang terkena obat batik dan sudah tersedia air bersih.

BENTUK INTERVENSI

Bentuk intervensi yang kami buat, dari awal bersepakat untuk menghindari pelayanan yang semata-mata hanya karitatif tetapi yang bersifat membantu memberdayakan orang miskin. Maka bentuk pelayanaan yang dibuat :

  • Hadir mengunjungi warga kolong jembatan secara rutin/terprogram
  • Mengajari menulis, membaca, dan berhitung, budi pekerti bagi anak-anak, khususnya bagi anak yang sudah usia sekolah untuk dapat menerima pendidikan formal, tidak hanya dipaksa mengemis.
  • Mengobati atau mengusahakan pengobatan bagi yang sakit dengan bekerja sama dengan RSU Budi Rahayu.
  • Memberi makanan yang bergizi bagi anak-anak
  • Secara tidak formal memberikan pendidikan penyadaran sosial, moral, kesehatan, terutama kepada orang tua agar menjadi tahu dan sadar akan apa tanggung jawabnya terhadap anak mereka.
  • Memberikan bantuan karitatif yang sungguh dibutuhkan seperti pakaian bekas, makanan, pengobatan dsb.
  • Mengusahakan kemungkinan pekerjaan yang sesuai/ usaha pengembangan ekonomi.

STRATEGI PELAYANAN

  • Hadir secara rutin mengunjungi bahwa jembatan untuk menjalin relasi saling percaya dan yang dekat dengan penghuni.
  • Menjalin kerja sama dengan pihak yang dapat dilibatkan untuk membantu yaitu  PANTI Asuhan Marganingsih Mitra SND, RSU Budi RAHAYU, dan Sekolah TK Santo Yosef Pekalongan
  • Mengusahakan dana yang dibutuhkan seperti untuk dana pendidikan/sebagai orang tua asuh agar anak dapat sekolah.

HASIL YANG SUDAH DICAPAI

  • Para suster dapat hadir dan terlibat di masyarakat secara nyata dan Masyarakat sudah mengenal baik dengan para Suster
  • Rumah Sakit Umum Budi Rahayu Melayani pengobatan warga bugisan dengan pelayanan yang penuh kasih.
  • Panti Asuhan Marganingsih Lasem memberi bantuan alat tulis untuk anak-anak..
  • Penghuni sudah nampak ada perubahan seperti :
  1. Kebiasaan berjudi dan minum-minum dilingkungan itu sudah berkurang
  2. Anak-anak yang berusia sekolah sudah dapat mengikuti pendidikan formal sampai jenjang sekolah menegah pertama.
  3. Penghuni sudah lebih berwawasan luas dan berpikir untuk hidup yang lebih baik dan berusaha untuk meningkatkan martabat mereka
  • Membuka keterlibatan dari banyak pihak untuk kerjasama
  • Karya ini didukung oleh pihak gereja juga keuskupan untuk menjadi karya paroki.
  • Dalam pendidikan anak-anak dapat mengikuti dengan baik dan berpotensi dalam bidang olah raga terutama olah raga renang, lari dan dalam mata pelajaran membatik.
  • Setiap hari raya keagamaan dan kenaikan kelas, sudah terprogram memberi bantuan sembako dan alat tulis yang bekerjasama dengan beberapa pihak.
  • Warga sudah memiliki KTP dan kartu KK
  • Untuk jasa pelayanan Kesehatan (Kartu Indonesia Sehat) Masih dalam Proses.
  • Saat ini mereka tidak tinggal di kolong jembatan lagi tetapi tinggal di rumah singgah yang sudah disediakan.

Ditulis oleh Sr. Maria Herlina SND (yang saat ini bertugas mendampingi mereka)

SHARE THIS ON:
COMMENT